Senin, 14 September 2015

PRODUKSI TEKS CERITA SEJARAH



Selapan bayi
Selapan adalah tasyakuran kepada bayi yang telah lahir salam usia 35 hari. Acara ini dilakukan pada hari kelahiran bayi, misal minggu kliwon (hari wetonnya). Maka, selapannya akan jatuh di hari minggu kliwon lagi, pada penanggalan Jawa yang berjumlah 5 (wage, pahing, pon, kliwon, legi) yang akan bertemu kembali setelah 35 hari dengan hari yang sama. Selapan mempunyai makna yang sangat kuat bagi kehidupan si bayi. Berulangnya hari weton bayi, pantas dirayakan seperti ulang tahun. Namun, selapan utamanya dilakukan sebagai wujud syukur atas kelahiran dan kesehatan bayi.
Pertama yang harus dilakukan saat selapan ialah, pemotongan rambut atau parasan. Pemotongan pertama dilakukan oleh kedua orang tua bayi, dilanjutkan oleh sesepuh bayi. Pemotongan ini dilakukan untuk mendapatkan rambut bayi yang masih suci. Alasannya agar rambut si bayi tumbuh dengan baik. Biasanya dilakukan sebanyak 3 kali, akan tetapi beberapa orang takut untuk menggunduli bayinya. Maka, pemotongan hanya dilakukan dengan seperlunya. Setelah potong rambut dilkukan, dilanjutkan dengan potong kuku sang bayi. Dalam rangkaian ini dilakukan pembacaan doa-doa untuk keselamatan dan kebaikan bayi beserta keluarganya.
Upacara ini dilakukan setelah waktu sholat maghrib, dan di hadiri oleh keluarga, kerabat, dan tetanga terdekat, serta pemimpin doa. Tidak jarang tradisi selapan ini di barengi dengan prosesi aqiqoh. Padahal aqiqoh sendiri adalah ajaran islam, yaitu penyembelihan hewan qurban berupa kambing pada hari ke tujuh kelahiran sang jabang bayi. Untuk laki-laki 2 ekor kambing, dan perempuan 1 ekor kambing. Akan tetapi kebanyalan masyarakat mengadakan selapan di barengi oleh aqiqoh yang dilakukan pada 35 hari setelah kelahiran bayi, dan pelaksanaan itu sendiri di sesuaikan dengan hari weton yang berasal dari penanggalan Jawa.
Tradisi ini berasal dari nenek moyang dari tanah Jawa. Dalam islam tidak ada adat selapan bayi, yang ada adalah aqiqoh bayi. Dalam pemotongan hewan aqiqoh, hewan yang telah di sembelih harus habis seketika atau tidak boleh tersisa sedikit pun, bahkan “jeroan” atau bagian dalam dari hewan tersebut. Dalam selapan biasanya ada sajian nasi tumpeng, kuluban, bubur merah dan putih, dan jajan pasar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar